Dream
Semuanya terasa seperti aku baru saja bangun dari mimpi indah dan kamu sudah tak lagi kutemukan. Aku merasa percuma dengan segala perasaan meletup - letup dalam dada, yang membuatku ingin menghentikan waktu dan menjadi abadi di dalamnya dan ingin membenarkan sebuah pepatah : bahwa ada bahagia yang selamanya. Aku merasa seharusnya nggak perlu ada perasaan ini. Seharusnya waktu nggak usah berbasa - basi membuat aku melambung tinggi, merasakan sesaknya bahagia, namun akhirnya tetap saja memaksaku bangun dan menerima bahwa semuanya mimpi. Kita tetaplah berada di bawah jemari tuhan, kita tetaplah dua ekor merpati dengan sayap yang sudah terlanjur berdarah, yang nggak saling tahu siapa sebenarnya yang membuat luka itu. Kita tetaplah kita; anak buah jarak yang selamanya saling berlari, padahal tinggal sedekat nadi. Dan seperti kata sebuah puisi,masihkah kita memandang satu langit yang sama kini ?